Bisakah kita sebagai ibu memilih kegiatan di rumah untuk anak sambil mengerjakan rutinitas kita juga?

Saya sebagai ibu baru tak tahu, rasanya pusing dengan balita di rumah hampir 24 jam. Setelah anak bayi kini jadi toddler yang  kadang tantrum, kadang lucu menggemaskan dan kadang ingin terlalu aktif, saya paham, ibu adalah penampung emosi toddler. Lalu emosi ibu diapaain? Ibu yang kadang emosinya meluap-luap dan agak labil jadinya.

Dalam rangka memberikan diri saya ketenangan, saya harus mengharmonikan jadwal kegiatan rumah dengan kegiatan si kecil. Memberikan kegiatan pra sekolah pada si kecil ( dengan kondisi si kecil tidak sekolah), hal paling mudah membolehkan ia ikutan dalam kegiatan harian orangtuanya.

Berikut hal yang bisa direncanakan. Kenali kegiatan rumahan anda. Saya hanya punya dua hal terpenting, memasak dan memenuhi makan siang dan tidur siang:P Serius? Gak beberes dan lain-lain? Nah, saya tipe yang tak ingin serius membersihkan rumah tiap hari tiap centimeter di rumah. Jadi beberes harian nan singkat hanya di  bagian toilet, dapur, ruang makan, ruang tidur. Sisa detil rumah bisa dilaksanakan di waktu weekend atau tombol “HUBBY for HELP”. Jadi bagi tugas dengan suami, berdayakan suami dan pilih jadwal beberes hingga jadwal me time dan pacaran:)

Untuk keseharian, ada kegiatan si kecil yang bisa dimasukkan ke dalam kegiatan sehari-hari

  1. Cooking Time
  2. Meal Time
  3. Bath Time
  4. Play Time
  5. Book reading
  6. Outdoor time
  7. Pray Time
  8. Sleep Time

Jika dalam seminggu, kita memasukkan  unsur  di atas dalam keseharian anak, anak balita akan belajar hal besar yang kelak berguna baginya. Saya memiliki prinsip, belajar akademis datang setelah 7 tahun. Suami pun setuju dengan hal ini. Artinya kami tidak akan memberikan kegiatan apapun berkenaan dengan baca , tulis hitung di atas kertas, dengan worksheet, pensil atau apapun bentuk belajar formal di kelas. Misal harus mengenal abc, kata ini kata itu, baca kata, etc. Saya yakin, bermain adalah hak anak sebelum 7 tahun. Dan ia akan belajar, selama bermain dan beraktivitas bersama kami. Ketika saya masukkan 7 kegiatan diatas dan kombinasikan dengan kegiatan sehari-hari saya, masha Allah, ia belajar lebih banyak. Manfaat yang paling seru dari mengikutsertakan si kecil dalam kegiatan harian kita adalah saya ikut belajar dari M. M tertarik mengobservasi barang dapur, ia bebas melakukan yang ia lakukan,  dalam batas kegiatan yang aman. Tugas kami hanya mengamati dan membantu eksplorasinya.

Misal:

Cooking : Gunakan waktu memasak  jadi arena eksplorasi kemampuan motorik halus dan kasarnya. Aduk , tuang, tabur, potong dan semua gerakan saat memasak dipastikan harus  menggunakan motorik halus.3Mnaafter1yo.jpg

Setiap kali saya memasak, M pasti ikutan. Nah, saya ijinkan ia menggunakan hal yang aman. Seperit memotong sayur, mencuci sayur, menuang, mengambilkan alat dapur. Hal favorit M sejak ia bersama saya di dapur, mencuci piring dan membuat adonan. Alhasil Saya punya anak doyan makan cireng ahha. Karena cireng dan cilok masakan yang saya sering dibuat 🙂

Bahayakah mengajak si kecil memasak? Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa. Pastikan semua alat dapur yang digunakan si kecil aman. Apa saja alatnya? alat dapur tahan pecah, berbahan silicon/kayu, menjauhi kompor, pisau yang tidak tajam (saya gunakan pisau mentega). Lalu berikan keistimewaan bagi sang koki kecil. Saya berikan pisau , talenan, hingga piring khusus baginya. Ini membuat M belajar mengenali barang yang bisa ia pakai saat memasak bersama saya.

Pelajaran tersembunyinya…

Inilah contoh beberapa hal yang bisa dipelajari si balita ketika setiap menit aktivitas kita yang diharmonisasikan dengan kegiatan si balita:

  • pengenalan badan – saat mandi
  • pengenalan jumlah benda  1-5 – saat memasak
  • pengenalan alam sekitar – saat jalan di taman
  • pengenalan hewan – saat membersihkan rumah
  • pengenalan cuaca – saat mengenakan pakaian
  • pengenalan waktu – saat bersiap akan bepergian
  • Pengenalan diri  dan pengendalian diri -setiap saat
  • Sensory Play – saat bermain , memasak, mandi

 

Baca Juga :Permainan Saat Hari Hujan

Tak jauh bedakan manfaat meminta balita berativitas bersama kita  dengan meminta balita belajar serius duduk di bangku dengan buku atau lembar kerja 🙂 Mari aktifkan keingintahuan si kecil saat kita beraktivitas bersama dengannya.

Iklan

Adakah yang tidak berbahagia ketika tahun ajaran sekolah tiba? Adakah anak-anak baru yang sakit perut-keringetan-mendadak malu di sekolah baru ? Suatu masa  di kelas saya hadir seorang anak perempuan. Ia murid baru di kelas nursery  (kelas untuk anak 2-3 tahun) kami. Wajahnya sangat manis. Tak ada yang menyiratkan ketakutan. Hingga usai circle time (acara bernyanyi bersama seluruh sekolah), kami semua memasuki kelas masing masing. Tiba-tiba sebelum memulai circle time dalam kelas, kami semua terpaku oleh wajah manis si anak baru. Ia tak lagi manis, ia menangis dan menangis hingga ia muntahkan semua susu dari mulutnya, saking konsisten selama 30 menit ia menangis. Hal itu berlangsung selama 4 hari, meski diantar oleh sang ibu, anak itu tetap melakukan hal yang sama saat pagi. Senin berikutnya tiba ia sudah merasa baikan, tanpa menangis dan lucunya kami selalu menyediakan baskom saat circle time, namun tidak terjadi lagi luapan susu dari perut. Itu cerita saya saat mengajar beberapa tahun lalu.

Adakah murid lama tapi ada di  kelas baru yang gusar? Cerita lain saya tentang seorang anak yang ketakutan. Anak perempuan ini sering gusar saat dipanggil guru untuk maju ke depan. Lalu guru menyuruh sebuah tugas yang sangat berat bagi sang anak. Ketakutan anak ini untuk maju ke depan kelas, disaksikan banyak teman. Tak hanya itu setelah berusaha maju dengan banyak keberanian, lalu mengerjakan, sang guru mengkritisi tugas anak ini di depan semua orang. Tugas apakah itu? Menuliskan kata. Tangan anak itu berkeringat dan malu saat harus menghapus satu huruf yang dinyatakan kesalahan oleh guru. Anak yang takut maju ke depan kelas itu adalah saya di masa lalu. Si anak yang takut dipanggil untuk menulis oleh guru. Kenangan sekolah taman kanak-kanak itu melekat pada saya.Catatan Penting: masa pra sekolah saya adalah tahun jayanya ratu disko Madonna..:D

Berkeley Park
Anak-anak selalu menikmati playground

Sekolah Taman Kanak Kanak bukan sesuatu yang besar  seperti kita kuliah. Tapi bagi anak-anak balita itu sesuatu yang besar, baru , aneh dan juga mungkin menakutkan. Perasaan murid saya yang menangis selama seminggu itulah memberikan gambaran masuk sekolah itu ya seperti menakutkan. Kondisi yang ia alami disebut Separation Anxiety  (kecemasan berpisah ). Biasa terjadi bagi anak yang berpisah dengan pengasuh atau ibu ditambah dengan keasingan dalam tempat baru. Bahkan ada lho anak yang ketemu orang baru aja bisa super super ngacir apalagi tempat baru. Kecemasan seperti ini ada sejak bayi berusia 7 bulan.

Berikut pertanyaan saya sebelum memberikan keputusan anak bersekolah di usia balita:

  1. Seberapa besar kesiapan anak bisa terpisah dari orangtua? Bisakah anak rela tidak bersama orang tua/pengasuh beberapa jam tanpa tantrum, labil emosinya? Karena kemampuan anak balita untuk mengatur keseimbangan berperilaku baik-buruk dan esmosi, penilaian terhadap sesuatu, termasuk bahasa  dan kemampuan komunikasi masih berkembang.
  2. Bagaimana perilaku anak saat tidak bahagia seperti tidak mendapatkan keinginannya? Ini jadi tantangan bagi guru di kelas ketika anak berperilaku tantrum terus-menerus.
  3. Masihkah si kecil menggunakan diaper? Bagaimana sekolah menyiapkan hal ini?
  4. Adakah sekolah memiliki  aktivitas dalam kelas yang melibatkan duduk di kursi, menggunakan pensil dan lembar kerja hingga kewajiban belajar menulis dan berhitung?  Kenapa dengan pertanyaan ini? Tahapan bisa duduk baik dan menulis hingga membaca erat kaitannya dengan tahapan perkembangan fisik anak termasuk perkembangan motorik halus (berguna untuk menulis) dan motorik kasar (duduk tegak , postur yang baik saat menulis), mengenal sisi kiri kanan dan kemampuan mata mengenal arah membaca tulisan (kemampuan yang diperlukan saat membaca). Itu baru sebagian aktivitas sekolah.
  5. Berapa lama waktu bermain si kecil di sekolah itu? Hal ini hal mendasar bagi kebutuhan berekplorasi dalam bermain bagi balita. Prioritas akademis bisa dikejar saat anak sudah siap belajar, namun waktu emas bereksplorasi dan belajar mandiri optimal terjadi saat otak masih berkembang di masa lima tahun.
  6. Siapkah sisi kemandirian finansial orang tua untuk menyekolahkan anak balita? Biaya sekolah si balita selalu lebih mahal karena  menangani anak lebih muda jauh lebih banyak hal kecil yang harus diprioritaskan terutama kesehatan. Tidak seperti siswa usia 7 tahun yang lebih matang dan mudah diarahkan, umunya organisasi pendidikan memberikan harga tak semahal biaya bersekolah pagi para preschooler.

Jika balita sudah tantrum lalu mengganggu kelas, atau anak takut mengerjakan tugas karena belum ada kesiapan menanggalkan popok, bisa juga mengompol karena terpisah dari orang tua, begitulah tanda tidak siap sang anak bersekolah. Kembali kepada niat orang tua untuk menyokelohkan anak balita. Apakah agar tidak main terus? Agar anak tidak bosan di rumah? Semua pulang pada niat dan tujuan orang tua.

Dari pengalaman-pengalaman yang terjadi saat saya bekerja sebagai guru, saya rasa balita  hanya perlu beberapa hal penting: tidur yang cukup, gizi seimbang, mengenal rutinitas diri dan melakukan rutinitas tersebut dengan mandiri sebagai tujuan, sisanya hidup mereka ya bermain yang bisa jadi sarana belajar hal baru ( bukan akademis hafalan dan kognitif semata) bersama orangtua/pengasuh. Karena anak balita masih belum bisa mengikuti tuntutan yang ada di sekolah. Fisik mereka masih berkembang dan terus berkembang. Barulah setelah lima tahun ia ready get set lets find a new environment to formal study. Contoh: berapa banyak orang bisa menaklukan balita untuk duduk lama di meja makan?Hmmm bayangkan stressnya balita disuruh duduk. Adakah balita yang bisa duduk lama dari 10 menit ? Bagaimana tuntutan di sekolah? Berapa guru dalam satu kelas? Berapa murid dalam satu kelas? Berapa menit semua murid dalam kelas itu bisa duduk? Berapa banyak anak yang bisa duduk. Itulah mengapa sekolah yang bagus biasanya menarik tarif  paling mahal di level preschool, lol. Karena para guru harus menaklukan balita untuk duduk disamping menghadapi tantruman.

Dr Gordon Neufeld, Psikolog Perkembangan Anak Kids Need Us More Than Friends menyatakan kualitas anak didasarkan pada kedekatan dengan orang tuanya. Saat ada sesuatu yang salah (perilaku misalkan) kita tidak boleh menyalahkan anak dan temannya. Kita sebagai orang tualah yang harus berintrospeksi. Mengapa anak berperilaku demikian. Karena kedekatan anak pada seseorang akan mempengaruhinya. Jika anak berperilaku negatif, itu semeata karena ada yang kurang dari kedekatan orang tua. Makanya ia mencari cara untuk memberikan resistensi untuk melakukan kebaikanyang diminta dengan berperilaku negatif. Balita mahluk yang mudah dibentuk, karena mereka masih meniru. Mereka masih ingin selalu dekat dengan orang tua. Tak ada salahnya “menahan” mereka bersama kita hingga 5 tahun, toh masa lima tahun itu tak akan kembali lagi.

Gabungkan kekuatan  belajar di usia lima tahun bersama orang tua? Insha Allah tak sia-sia kebersamaan lima tahun itu. Dr. Gabor Mate juga menyetujui , attachment anak dengan orang tua berpengaruh pada perkembangan otak anak lihat pada : Attachment and Brain Development.

Sergio Pellis, peneliti dari Universitas Lethbridge di Alberta Canada, bermain adalah cara anak efektif agar anak bisa tambah pintar! Saat balita bermain otak mereka akan lebih aktif, saraf otak bagian depan  bersinggungan ketika terjadi pengalaman baru bagi si kecil : Scientist Says Child’s Play Helps Build a Better Brain

Jikalau anak balita harus bersekolah, sudahkah sekolah itu sesuatu yang penting bagi kebutuhan si balita tanpa mengurangi waktu bermainnya, mempengaruhi perilaku-mood-nya, dan terpenting siapkah ia bersekolah di usia balita?

 

Alhamdulillah, summer selalu jadi waktu bermain di luar sepuasanya. Alhamdulillah setiap summer pula, bayi M  bertambah besar , dulu toddler kini menginjak usia pra sekolah. Selama perkembangan setahun dari usia dua yang luar biasa ngamukan ngambekan, hingga usia tiga tahun di bulan Mei kemarin, saya mengerjakan beberapa aktivitas seru di luar ruangan. Hasilnya memberikan mood yang baik bagi M, ia menemukan ide baru, kosakata baru, hingga mudah diminta untuk makan / minuman penting karena fisik yang lebih aktif.

Hasil penelitian Maria Montessori, C  juga beberapa pakar pendidikan lain, main di luar adalah agenda wajib bagi anak balita. Tentunya karena hal itu memberikan pencerahan letupan kecerdasan  yang diperoleh selama mereka bermain di luar dan berinteraksi dengan dunia luar rumah. Sementara para ahli kesehatan menyebutkan perkembangan motorik kasar dan motorik halus anak balita akan mempengaruhi berdampak baik pada perkembangan dua kemampuan fisik tersbut, main di luar bisa menjadi alternatif suasana hingga sumber ide bagi anak untuk beraktifitas.

Pakar kesehatan mental bahkan menyarankan manusia dewasa dan manula wajib keluar rumah untuk merefresh kembali pikiran mereka. Sebisa mungkin kita keluar rumah sekedar mencari udara segar. Pilihan terbaik ya bisa aktif di luar rumah.

Berikut beberapa ide untuk  kegiatan outdoor :

  1. Berjalan-jalan
  2. Main di playground
  3. Lempar tangkap bola
  4. Main Bowling
  5. Tarik tambangFullSizeRender (1).jpg
  6. Melangkah antar batu / halangan
  7. Yoga
  8. Berguling
  9. Lompat kodok
  10. Lompat tali
  11. Panjat pohon
  12. Bersembunyi
  13. Petak umpet
  14. Main tak jongkok
  15. Main sepeda / skuter
  16. Mencari benda dengan ciri yang diberikan (misal mencari benda berawalan huruf A, mencari benda terbuat dari kayu, dll )
  17. Mencari benda di taman
  18. Mengamati serangga / binatang sekitar
  19. Lomba lari
  20. Mendorong  sepeda / kardus
  21. Koleksi benda natural ( batang,daun dll)
  22. Menarik layangan
  23. Mengitari lapangan
  24. Memanjat pohon
  25. Menaiki anak tangga / permukaan tinggi – rendah
  26. Piknik
  27. Membaca buku
  28. Bermain boneka
  29. Bernyanyi dan menirukan gerakan sesuai lagu
  30. Menarik balon
  31. Main gelembung sabun
  32. Main pasir
  33. Main air
  34. Membuat resep masakan sederhana
  35. Tidur siang
  36. Mengamati awan
  37. Mengamati matahari terbenam / terbit
  38. Melukis / menggambar benda sekitar (membuat gambar pohon)
  39. Membuat alat musik dari benda sekitar
  40. Berkebun, menanam tanaman, membersihkan rumput liar , menyiram tanaman dll
  41. Menerbangkan pesawat kertas

 

Nah jika semua sudah dilakukan, tak ada alasan “bermain” gawai lagi ya…Gawai alias gadget sejatinya hanya alat hiburan yang dibatasi penggunaan kurang dari 15 menit setiap hari menurut dokter anak. Sisanya biarkan anak aktif di dalam rumah dan di luar. Ada ide bermain lainnya? Boleh dibagi di kolom komentar…

 

Happy Outdoor Time!

Just In Time Parenting

Bermain…. bermain, bermain ku di tanah lapang...

Eitss kalau tetiba si awan kumulusnimbus bertiup , kemudian percikan hujan turun di tanah lapang, para nak kecil nan riang bertebaran juga kan di tanah lapang. Yup, untuk main becek-becekan. Tapi yang pening tujuh keliling adalah pasti para ibunda. Kala hujan-hujanan, aneka resiko menyerang sang buah hati.

Saya pun jadi salah satu ibu yang ketar-ketir ketika musim penghujan tiba. Karena tempat kami tinggal, kebetulan wilayah seputaran teluk dan laut yang cukup kencang anginnya. Meski jika hujan datang saat menjelang spring. Musim penghujan di  tempat kami , disertai angin yang sangat kencang. Mana mungkin berani ke taman umum untuk bermain. Menghadang angin saja rempong karena tingginya kecepatan angin.

Nah waktunya saya untuk putar otak, bermain bersama M (24 bulan) di dalam rumah meski hari hujan. Saya memilih untuk bermain dengan :

  1. Selimut. Selimut benda hangat nan multifungsi. Saya bisa menciptakan permainan dengan selimut untuk main tenda , main menghibur bayi, mencari benda, mengenal istana, hingga snow sled alias kereta salju.
  2. Alat dapur. Anak usia menuju 3 tahun masih tertarik main alat -alat dapur. Maka saya dan M akan membuat adonan playdoh, lalu mencetak dengan cetakan kue, penggiling dan piring-gelas juga bisa dibentuk. Yang unik kami bisa mewarnai play doh kami. Alat dapur juga bisa jadi main  dapur-dapuran, pasar-pasaran, hingga cafe ala kadar:D
  3. Main air.
    Wishi Washi Game
    M berpura-pura sedang mencuci semua alat dapur kotor. 🙂

    Hujan benda paling unik. Terbuat dari air dan kembali ke air. apapaun wadahnyas elalu bentuknya tidak berubah. Ini kesempatan bagi say auntuk mengenalkan “apa dibalik hujan?” *dibaca ala mba Feni Rose*  Maksudnya mengenal asal muasal hujan. Untuk M ya saya seputar mengenalkan hujan terbuat dari air. Lalu saya buatkan gambar hujan hujan. Berakhir dengan keluar mengambil air hujan sambil berpayung. Bisa juga memanfaatkan tema air untuk main air di dalam rumah, seperti main cuci piring.

  4. Hujan Buatan . Kadang M tak selalu sehat selama musim penghujan.  Agar M bisa bermain di kala demam, saya memberikan permainan hujan buatan. Dengan bola kapas , saya berikan hujan buatan bagi M. Hal ini akan lebih menyenangkan jika ia mengenakan jas, sepatu boots, dan payung saat bola hujan turun. Kadang efek angin juga bisa diberikan dengan hembusan efek karton.
  5. Memasak.Persiapan MemasakKalau buat sebagian orang hujan bikin galau, buat saya hujan bikin galau karena laparrrr. Maklum doyan ngemil berat. Nah saya ajak M untuk memasak resep enak dan cepat dimakan di kala musim hujan. Seperti puding roti, duplikasi mie Indomie, frozen yoghurt , protein bar, hingga pancake. Kalau saking malasnya memasak ya membiarkan M membuat minuman coklat kesay
    angan 🙂
  6. Laundry Hide n Seek . Sembunyikan semua laundry… Ah ya hidup emak tidak bisa lepas dari kenyataan, 80 persen hidup seorang ibu dan anak terkait dengan masalah londri sulondri . Yuk mari kita mainkan. Sembunyikan benda dibalik semua laundry, lalu M mencari. Bisa juga mencari pasangan kaos kaki, saya pegang satu kaos kaki, M mencari pasangannya.
  7. Bekukan Air Hujan. Keluar sedikit boleh dong dari rumah, lalu kita berikan baskom untuk ditampung, masukkan benda unik speerti lego di dalam kontainer kecil. Masukkan kontainer di  dalam freezer lemari es. Kemudian beberapa jam kemudian saya  ajak M bereksplorasi dengan es berlego. Ini cocok untuk dimainkan saat anak ingin tidur siang, untuk eksplorasi sesudah ia tidur siang.
  8. Mengambar Hujan. Nah ini paling messy wes -e -wes. Bahannya air, cat dan botol semprot. Hujan identik dengan percikan, kenalkan kata percikan juga ya. Nah berikan setitik warna lalu percikan air dengan botol semprotan.semakin banyak titik warna semakin ramai percikan warnanya..
  9. Tea Party. Bolehlah gaya-gaya sedikit ya ala nyonya di negeri Ratu Elizabeth. Kali ini ada kue keju, keju, anggur dan biskuit. Isi teko ya jangan teh pahit atuh. Suscok! Susu krim campur gula soklat.
  10. Kostum Kebesaran. Ini dia adegan bongkar lemari. Pakaikan M dengan baju ayah, lalu hijab ibu, atau mix match aneka sweater, sepatu kaos kaki. Boleh juga kita buat runwaynya!
  11. Olah Raga dan  Jiwa : lorong kursi, dorong kursi, yoga, balance beam, lompat kodok, roll down, tarik kardus , bersepeda.
  12. Least is the best: Get that dough and the books, playdough dan kembali ke art and craft seperti mengecat benda, mencoret-coret dengan aneka media.

    Bermain Playdoh
    M membuat bentuk dari kancing , batu dan daun kering.

 

Baca juga Kumpulan Resep Adonan Mainan Favorit

Selamat bermain!

Lanny

 

Punya aneka barang bekas paket terbengkalai di rumah? Atau kumpulan coretan si kecil di atas kertas? Kertas hasil print yang sudah tak terpakai namun masih polos bagian belakangnya? Pita di bungkus kado dari teman?

Semua barang tersebut bisa dipakai lho tanpa harus membeli kertas kado. Bermodal semua barang yang tercecer di rumah , bungkus kado jadi lebih dan murah. Dari barang tersebut bisa dibentuk motif yang sederhana namun tidak banyak di toko manapun. Lalu kita bisa melatih meminta si kecil jadi pembuat motif bungkus kadonya. Seringkali saya membiarkan putri saya mengecat tanpa pola- bebas seterrrrrah doi mau mengecat dengan apa,  bentuk apa saja  tertuang di secarik kertas polos. Ternyata hal ini memberikan keuntungan ketika perlu bungkus kado.

Bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan motif pembungkus kado ini adalah:

  1. kertas bekas
  2. kotak kardus
  3. leaflet toko / menu restoran
  4. kertas bermotif coretan si kecil
  5. lego
  6. spidol
  7. cat
  8. kuas
  9. pita
  10. selotip
  11. gunting
  12. spons

Kertas Kado Motif Doodle 

  1. Gunakan kertas polos sesuai dengan kertas kardus yang akan dibungkus
  2. Pilih motif tertentu yang mudah dibentuk
  3. Pilih warna spidol yang disuka
  4. Mulai mencoret di kertas polos. Jika takut gagal, coba menggambar dahulu di kertas lain, sbeelum menggambar di kertas kado.
Doodle motif kertas kado

Kertas Kado dari Kertas Bekas

  1. Gunakan kertas polos sesuai dengan ukuran kotak kardus yang akan dibungkus
  2. Bungkus boks sesuai dengan bentuk
  3. Pilih warna pita yang disuka
  4. Lilitkan pita disekeliling kado

 

Kertas Kado dari menu Restoran

Kertas Kado Motif Cat Air

  1. Gunakan kertas polos sesuai dengan ukuran kotak kardus yang akan dibungkus
  2. Pilih motif untuk digunakan
  3. Pilih warna cat air yang disuka
  4. Lukis kertas polos dengan bentuk yang  mudah. Seperti bentuk kembang jaman belajar gambar di SD ( membuat bentuk kembang kemudian diisi dengan warna cat lain di bagoian tengah)

 

Kertas Kado Motif Pola Lego / 

  1. Gunakan kertas polos sesuai dengan ukuran kotak kardus yang akan dibungkus
  2. Pilih warna cat air yang disuka
  3. Pilih bentuk lego yang besar agar mudah digenggam
  4. Mulai mencetak , bisa dikreasikan aneka warna atau formasi cetakan yang beragam

Baca juga : DIY Membuat Dekorasi dengan Dedaunan Kering

Kertas Kado Motif Coretan Anak

  1. Gunakan kertas polos sesuai dengan ukuran kotak kardus yang akan dibungkus.
  2. Pilih motif coretan anak
  3. Pilih warna pita senada
  4. Mulai menggunting kertas sesuai dengan tutup kardus.
  5. Tempelkan kertas coretan dengan doouble tape , sesuaikan dengan ukuran tutup boks.
  6. Ikatkan pita pada sekeliling kotak kardus.

Selamat berdaur ulang dan berdoodle!

Tulisan ini merupakan sebagai Collaborative Writing #KumpulanEmakBlogger Kelompok Anggun C. Sasmi dengan tema Lingkungan yang ditulis oleh  Mak Lis Dhaniati .

Alkisah, adalah seorang remaja putri penggemar komik – drama Jepang usia belasan tahun. Di tengah kesibukan belajar, naik sepeda, main basket dan nongrong di toko buku melirik kartu Sailormoon di vending machine, ia sering mudah sakit, mudah lemas. Kadang ia  sulit bernapas. Kulit remaja  ini tergolong pucat. Kadang degup jantung tak beraturan meski tidak ada penampakan gebetan di hadapan . Jika ia telat makan, tangan kakinya bergetar hingga hilang keseimbangan kadang membuat ia jatuh  tersungkur. Setiap masa mesntruasi datang, anak remaja ini selalu dilanda pusing. Itulah masa akil baligh saya hidup dengan anemia. Meski di usia muda seharusnya  bisa merasa aktif dan produktif, kadang kondisi anemia menghantam keaktifan dan keeksisan dalam berbagai kgiatan ekstra kurikuler. Sehingga saya menjadi mudah terserang penyakit rentan diberikan antibiotik 😦 Baca lebih lanjut

Saya senang sekali menonton film-film berbahasa asing. Seru aja dengar bahasa baru teupararuguh..

“eee nandeska?”

“Ich verstehe dich nicht!”

“te odio Marimar..”

Bahkan film berbahasa Asing tanpa didubbing bahasa Indonesia membantu saya mengenal kosakata asing yang belum pernah saya dengar. Lalu bagaimana dengan balita? Efektifkah mengenalkan bahasa asing pada balita?

Kini putri saya yang beranjak 30 bulan juga fasih memahami bahasa asing pertamanya, bahasa Indonesia. Keluarga kami menggunakan bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari. Namun secara tidak langsung saya mengenalkan bahasa asing pada M. Sehari-hari ia banyak berinteraksi dengan saya, jadilah banyak terselip percakapan bahasa Indonesia. Apalagi kalau sudah ngomel karena tingkat masalah begitu ribet, atau begitu mata melihat kejadian warbiasa- bahasa Sunda- sering juga tersebut. Bahasa asing lain adalah bahasa kami  berdoa : Arab. Sementara jika keluar rumah bertemu tetangga atau kerabat bisa mendengar bahasa Spanyol ala Dora, Urdu pakistan Champ Vietnam saat kumpul dengan keluarga ipar:D

 

belajar2-2 copy
M bercakap-cakap menggunakan isyarat dengan seorang gadis Korea.

Kapan mengenalkan  bahasa asing pada anak? Tentu sejak dalam anak dalam kandungan, sesudah ia lahir , ia akan mendengar ibu dan keluarga. Untuk putri saya, ia sangat fasih meniru bahasa asing beberapa bulan sebelum ulang tahun pertama. Misalkan saya berujar “nih” ia pun menirukan. Saat ia bertualang ke Indonesia kedua kali, tepatnya saat usia 25 bulan, ia mulai menirukan bunyi kata dan memahami percakapan sederhana. Termasuk cepat memahami makna kata “makan” 😀

 

Namun saya dan suami   tetap berkomitmen tidak menggunakan bahasa Indonesia secara penuh dengan M. Meski ia menyerap dengan baik dan benar:D Tujuannya agar putri saya mampu mengenal banyak kosakata dalam bahasa sehari-hari  yang keluarga kami gunakan. Selain kami tak perlu repot menerjemahkan saat  kami berujar bahasa asing. Hingga saat ini saya harus  menerjemahkan beberapa kata -kalmmat asing yang kami gunakan sehari-hari. Misalkan kalimat  bismillahirrahmanirrahim. Saya ingin ia paham makna doa yang ia ucapkan itu lalu saya berikan terjemahan bahasa Inggris pada M sesudah mengucapkannya.

Menilik pengalaman saya sebagai terapis anak kebutuhan khusus, banyak anak menggunakan dua-tiga bahasa yang dikenalkan oleh lingkungan. Namun anak tersebut tidak bisa menguasai bahasa tersebut. Pernah juga saya melihat anak yang belum bisa berbicara, dan belum berkomunikasi dan beberapa masalah perkembangan lain. Bagi saya anak usia sebelum sekolah dasar ia masih berusaha mengenal diri (emosi-perilaku-kemampuan kemandirian) . Selain itu kemampuan berkomunikasi bukan dititik beratkan untuk bisa berbahasa asing di usia dini, namun menyerap banyak kosakata dan mengulanginya hingga bisa menggunakan dalam komunikasi dua arah. Jika bahasa asing dijadikan bahasa kedua dalam penyampaian sehari-hari, saya yakin otak anak harus  berkerja dua-tiga -beberapa kali saat proses berkomunikasi itu terjadi. Jadi bahasa asing yang ia dengar hanya sebagai ucapan tak makna. Jika ia bisa memahami maka itulah  bonus bagi saya. Seperti saat berkunjung ke Indonesi,  M senang mendengarkan siapapun bernyanyi lagu Burung Kakatua, lalu  heboh bernyanyi Rasa Sayange karena melihat permainana angklung di mang Udjo, itulah bonus jalan-jalan ke negeri sang Ibu. Alhamdulillah… sudah tahu kata kentut juga LOL.

Baca juga Bahasa Isyarat untuk Komunikasi dengan Bayi

Apakah bahasa asing perlu diajarkan kepada balita? Ternyata banyak juga ahli menyarankan untuk anak belajar bahasa ke dua  di usia sekolah dasar. Walaupun sebagian orang tua-ahli  yakin anak bisa juga bisa menjadi pembelajar bilingual yang baik dan tidak akan mengalami kebingungan berkomunikasi.

Ibu ayah, tahu yang terbaik bagi anak. Namun jangan lupa, kemampuan anak adalah sesuatu yang harus orang tua cermati , siapkah ia berbilingual dan mampukah ia berbilingual?

Happy chit chat !

Lanny

Referensi:

Raising Bilingual Child