Rituals You Need to Encourage to Your Child Before Consume Beverage

Rituals You Need To Encourage Before Consume FNBLong long ago, kebiasaan makan dan minum yang diajarkan oleh orang tua saya hanya duduk dan baca doa. Lalu kini saya duduk bersama suami , tinggal di negara berpenduduk majemuk dengan kami sebagai minoritas,saya jadi terpicu mengajarkan sesuatu.

Konsumsi makanan minuman – Food and Beverage, bermula dari hati. Bagi muslim akan selalu bertanya nomor satu: halalkah makanan ini. Mencari makanan halal sendiri susah-susah gampang. Istilahnya yang haram banyak. Terbersit beberapa habit yang saya temukan saat akan mengkonsumsi food and beverages.

1. Membaca

Iqro yang dijadikan wahyu pertama bagi Nabi, menjadi kebiasaan juga saat kita akan mengkonsumsi food and beverages . Baca label: halal atau tidak. Kemampuan baca kehalalan bisa dibantu oleh beberapa aplikasi seluler, kita tinggal scan atau ketik nama produk lalu App akan mencari. Namun ketika App tak ada, pengetahuan jadi andalan. Seperti turunan dari alkohol kan banyak.. PR bersama ortu buat bisa membaca label dalam makanan.

Termasuk baca doa. Ritual wajib agar kita meminta keberkahan dan perlindungan dari makanan yang diberikan. Namun sebagai orang tua berkewarganegaraan berbeda.. Saya harus menritualkan cerita food and beverages, apa makanan itu, siapa yang suka makanan itu. Jadilah bercerita masuk ritual kami.termasuk menerjemahkan doa yang dibaca , dari bahasa Arab ke bahasa Inggris.

Baca juga bahan makanannya, baik kah. Saya dilahirkan oleh keluarga Sumatera. Makanan berdaging dan santan sungguh bagian dari keseharian. Namun ini bertentangan dengan pola makan yang saya ingin ajarkan pada anak. Yup, saya harus meminta diri ini mengalahkan nafsu tidak makan santan berlebih juga daging . Efeknya kan kadar kolesterol yang tinggi, lagi lagi saya harus mengajar kan membaca benda apa yang akan dimakan. Baikkah bagi kesehatan?

2. Gaya Saat Mengkonsumsi

Bukan sekedar duduk yang jadi gaya makan. Memang disunahkan menurut Islam agar makan minum sambil duduk, dimulai dengan tangan kanAn.

Namun untuk usia anak saya yang masih balita, bukan itu yang saya titik beratkan. Kebersamaan makan-minum dengan ayah ibu di meja makan yang saya tekankan. Toh pengetahuan makan duduk harus dibarengi dengan penjelasan ilmiah sehingga anak ga merasa dibohongi , bayi saya belum bisa menerima perintah itu karena ia sedang semang cruising . Alhasil saya balik, duduk makan bersama jadi target belajar. Ia duduk di kursinsinggasananya, kami juga punya singgasana.

Cita cita saya beberapa tahun lagi, berharap ia kenal dimana meja makan dan waktu makan. Tanpa harus susah-susah berjalan atau lari mengejar M untuk makan-minum. aamiin!

3. Meliburkan gadget

Saat makan minum keluarga besar , ada satu tokoh di film Hercule Porot yang terus memegang bukunya. Lalu naluri keibuan saya mengkritik si tokoh, ibunya ngapain waktu dulu anak ini membaca saat masih kecil. Kini semua orang punya Gadget dan insta party saat makan minum. Ya Allah jadikan waktu makan minum jadi wkaru  menyenangkan untuk berbincang . Meskipun kafan di film lain terjadi “perselisihan meja makan”, setidaknya tidak ada Gadget di antara mereka. Jika ada mungkin perselisihan itu masuk ke status Facebook atau muncul di snap Chat!

4. Kosongkan pikiran tak penting, pedulikan hanya makanan-minuman

Saya tahu ada beberapa orang emosional saat makan. Orang itu lagi marah lalu melampiaskan kemarahan sengaja makan hingga lapar berlebih. Apalagi jika makanan yang dikonsumsi bentuknya ringan dan bergaram. Itulah saya. Kini saya mencoba tidak jadi “emotional eater”seperti itu. Bagusnya saya sedang upgrade cooking skill, jadi saya terus mempelajari apa apa yang kurang dari masakan . Seringa jika saat makan, ya makan,menikmati tias banan yang dilumat nulut. Memperlama saat mengunyah. Bak orang mencicipi wine atau kopi gitu deh, diseruput , dihirup. Bukan sekedar blek-blek kunyah telan-kenyang. Konan memperlama penguyahan   juga membuat langsing!

Enjoy Meal Time!

Lanny

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s