Baby Toilet Trip

Bayi yang penuh  ingin tahu, selalu berusaha bertualang di mana saja. Hampir dua bulan sudah bayi saya (11 bulan)belajar merangkak. Sudah beberapa kali pula saya menjumpai dia di dalam toilet sedang asyik buka tutup lemari. Ketertarikannya akan toilet yang sering saya tutup untuknya, memberikan ide untuk menghadiahi si bayi perjalanan melegakan dalam hidupnya: toilet trip!

Suatu hari saya membaca  seorang wanita sudah mengenalkan bayi 4 bulan untuk duduk di potty ( alat khusus bayi untuk pipis). Saya pun  tergerak mencoba mendudukan bayi saya di usia 5 bulan. Awalnya ia menolak duduk karena ia kaget dibasuh bagian genitalnya. Selain ia sibuk menarikuntuk toilet trip, lalu mendudukkan tuan putri di kloset  meski ia  Bathroom

sibuk main tisu toilet dan  tidak pipis.  Selama di ajar duduk di kloset, sang bayi hanya resah ketika air mengenai bagian genitalnya. Maklum  kadang si Mama kelupaan memberikan air  hangat untuk membasuh. Ia pun sudah bisa membuang limbah dari perutnya. Saya haya menerka kapan ia mengejan atau memberikan ciri sedang -mau -almost BAB, lalu segera membawa ia ke toilet untuk duduk di kloset. Sebelum semua sisa penggilingan ususnya yang semerbak berbau itu kelar keluar di popok. Namun  saya tak rutin bertoilet trip lagi karena saya terbang ke Jakarta  ketika ia 6 bulan. Di Jakarta juga sering bepergian kesana kemari. Selain saya tak bisa lagi menemukan momen ia akan membuang hajat (Sebelumnya ia punya waktu tertentu untuk BAB) hingga terlupakanlah toilet trip untuk potty training.

Sepulang dari Indonesia,saya diberikan oleh -oleh seat khusus bayi untuk ditempatkan di atas kloset . Saya pun tergerak lagi untuk mengajarkan potty training.  Kali ini saya coba dengan cara yang sama, bayi saya dudukkan di toilet ketika akan ganti diaper. Namun saya sering kerepotan dengan tingkahnya yang sulit diam . Selain malas menentukan kapan waktu toilet trip. Akhirnya saya membaca lagi soal trik – tips toilet training / potty training.

Maria Montessori menyarankan agar bayi diajak ke toilet untuk sekedar kenal rutinitas toileting. Montessori meminta pendamping / ortu sering ke toilet di waktu sesudah dan sebelum makan, sesudah bangun tidur dan sebelum akan tidur. Lalu saat ke perpustakaan di satu hari panas seusai jalan naik turun tanjakan sepanjang 1 mil, saya menemukan buku dr Jill Lekovic : Free Diaper Before Three . Hari itu juga saya bersyukur pergi susah payah ke perpustakaan hingga menemukan buku itu. Dokter Anak yang memiliki 3 toddler  ini melakukan penelitian soal potty training. Ia menyarankan agar kita pendamping mengenalkan si bayi sejak dini untuk kenal toilet. Hal ini akan memberi banyak manfaat bagi kesehatan si bayi. Semakin dini usia bayi (6 bulan saat umum bayi bisa duduk), semakin cepat bayi kita bisa bebas dari pemakaian popok. Penundaan lepas diaper akan menyebabkan kemungkinan bayi terkena urinary trac infection (UTI/gangguan pipis). Bayi juga akan tergantung pada diaper ketika ingin pipis. Karena diapernya anti bocor. Sehingga kemungkinan menimbulkan masalah sosial yaitu  saat usia toddler yang seharusnya ia sudah lepas diaper, diantara teman lain yang sudah bebas diaper, bisa  kejadian sang toddler sering ngompol. Lalu si toddler bisa  jadi bahan ejekan teman-teman. Kalau saya sih lebih senang alasan potty training dini sangat baik karena tak ingin  sering-sering beli diaper;p

Make dimulai kembali potty training bagi bayi saya. How? Do the toilet  trip lalu…

  1. Siapkan alatnya sebelum bepergian:  potty , saya menggunakan Potty ini (tempat khusus untuk BAB/BAK seukuran anak hingga 4 tahun -tidak bisa dipakai jika anak berbadan besar. )
  2. Ketika bayi tidak bepergian, saya menukar popok sekali pakai dengan popok kain . Hal ini memudahkan karena popok kain mudah dideteksi saat terlalu basah malah kadang bocor. Walaupun  ada juga popok kain  tahan sih. Hal ini untuk memberikan sensasi resah karena basah pada bayi. Terbukti suta hari M popoknya kotor ia menangis tak jelas. Saat itu ia sudah mulai toilet trip hampir beberapa hari.
  3. Mengatur waktu untuk toilet trip. Saya akan ajak bayi saya ke toilet setiap kali akan tidur, makan juga sesudah waktu tidur dan makan.
  4. Mencermati gerakan ia akan BAK / BAB. Harus bisa baca gerakan dan muka si bayi untuk bisa mendudukkan si bayi duduk di potty / toilet sebelum ia BAK BAB .
  5. Menciptakan suasana nyaman saat bayi duduk di potty. Sangat efektif buat bayi saat di dalam toilet ia tenang dan tidak diburu-buru untuk BAK/BAB. Alhasil  saya jadi badut yang memasang muka konyol atau jadi penyanyi dadakan sata ia duduk di potty. Namun saya berikan tepuk tangan dan tambahan entertainment jika ia bisa BAK / BAB. Semoga M merasa itu reward;P

Alhamdulillah, kini M terbiasa duduk di potty untuk BAK/BAB. Lalu ia tahu saya menunggu -sambil berulang kali menyebut pipis – sampai ia BAK/BAB. Memang M  belum bisa lepas diaper, tapi saya menang banyak karena toilet trip ini. Kemenangan itu berupa  penghematan diaper (meski setiap 2 hari cuci popok kain) juga wajah lega M setelah ia duduk di potty lalu berhasil BAK/BAB.

Silahkan share ya cerita potty training di kolom komentar.

I know its stinky but start early the potty trip!

Iklan

4 pemikiran pada “Baby Toilet Trip

  1. anak pertama dulu aku telat nih ngelatihnya mbak… baru mulai pas dia 2 thn… untungnya cuma butuh 5 bulanan sampe dia akhrinya ga ngompol2 lagi ampe skr.. Makanya, adiknya ini nanti mw aku mulai secepet mungkin.. bener tuh, alasan utama sih krn mehong ya bok harga popok ;p .. Jadi makin cepet dia lepas dari popoknya, makin cepet budget popok bisa dipake utk ke salon maminya 😀

    Suka

    • Kalau latihan BAB biasanya saya harus kenal dulu muka dan gelagat anak , sebelum BAB , selain kenal waktu anak biasanya BAB.Jadi sebelum BAB bisa anak di ajak ke potty / WC . Coba pakai dudukan WC untuk anak , latihan dulu pakai potty, atau kalau mau bikin kursi montessori juga bisa dengan melubangi kursi untuk anak bisa duduk jika menggunakan WC jongkok.Beberapa ibu malah ada yang bawa buku untuk biasakan anak berpotty .

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s