I Don’t Like My Mom

Sebagai bangsa Asia, yang tipikal bersama orang tua  setelah usia 18, saya pun mengalami masa hidup sebagai teenager alai bersama dengan orang tua.  Sungguh hal itu hal yang tidak mudah. Sebagai anak kita punya hak. Hak bicara. Hak bertingkah laku. Hak berekspresi. Hak yang setiap alai pasti akan perjuangkan hingga pulsa internet habis atau uang jajan habis. Meskipun akhirnya saya memperjuangkan diri untuk jadi anak kos yang berusaha bahagia meski kurang gizi ;p Karena saya banyak hal yang selalu jadi konflik ketika tinggal bersama orang tua.

Ibunda tidak mempertahankan saya sebagai anak kecil. Saya selalu diminta tolong A sampai Z. Jika tidak ibunda akan mengomentari dengan ribuan kalimat nasihat. I don’t like my mother.

Hal lain adalah ibunda punya gono gini doa .Saat saya memutuskan mencoba kabur dari negara kesatuan dengan ikut beasiswa. For the sake of adventure juga pilih ke Jepang. Saya jauh-jauh dari Bogor mengikuti tes uji coba di Jakarta untuk bisa masuk ke negara Jepang. Pulang dari tes, ibunda meminta saya membertimbangkan lagi langkah saya. Ternyata keberatan itu terucap jadi doa , saya pun gagal tes uji coba. I don’t like my mom.

Hal yang tidak sukai tentang ibunda adalah ia sering menggunakan siasat. Ketika saya akan melakukan A tiba-tiba ia berencana B yang detail dan lengkap dan harus dilaksanakan saat itu juga. Buyar sudah rencana saya karena ibunda selalu meminta saya melaksanakan rencananya dengan iming-iming ia akan memberikan sesuatu.

I don’t like my mom. Ibunda saya senang mengomentari perilaku saya di luar standarnya. Kadang ia mengkaitkan dengan agama yang kami anut juga kadang menyitir ayat suci dari kitab. Termasuk jika saya menikah, ia sudah  punya kriteria apa yang harus saya kembangkan untuk jadi istri. Berikut kriteria calon mantu idaman dia juga.

Hal lain yang tidak saya sukai saat kami tinggal bersama, ibunda sering sekali meminta saya jadi asistennya. Saya harus mengcover semua kegiatan ibunda di rumah saat ia tidak ada. Mulai dari bangun pagi hingga ia kembali ke rumah. Padahal saya punya gaya sendiri dan agenda sendiri.

Saya juga tak menyukai ibu saya karena ia selalu menyebut nama saya dalam doanya agar segera menikah. Sebagai single saya masih ingin mencari materi demi sebentuk sepatu atau kamera atau tiket perjalanan. Orang menikah juga tak boleh terburu-buru toh. Harus dilihat 3Bnya, behaviour – brain – blingbling:D

Nah saya pun jadi ibu-istri kini. Semua yang ibunda lakukan pada saya, hal yang bisa  jadi konflikt kepentingan selama tinggal bersamanya, kini saya rasaran kebenaran manfaatnya. All those things that I didn’t like. Saat ibunda meminta tolong, itulah cara saya belajar menjadi mandiri. Masuk dalam satu situasi yang akan saya hadapi. Saat ibunda meminta pertimbangan, itulah cara Allah menjawab doanya. Saat ibunda punya agenda, itulah cara saya berbakti dan memanfaatkan waktu bersamanya.Saat  ia mengomentari perilaku, itulah cara saya belajar   agama dan mendengarkan nasehat yang ia temukan dari kitab suci. Saat ia meminta saya jadi asisten, itulah cara ia menyiapkan saya jika harus mengurus ayahanda. Saat ia meminta saya menikah, itulah cara saya belajar menyiapkan diri untuk membentuk keluarga.

I don’t like my mom. Saat itu. Saat ia masih bersama kami. Tinggal di bumi. Saya pun mengerti kadang ada saat kita membenci hal yang sebenarnya baik untuk kita. Saya kini terpisah waktu dan jiwaraga dari ibunda. Belau berpulang ke haribaan Ilahi. Ibunda sudah menyiapkan saya lewat hal yang tak saya suka. Tapi semua yang tak saya suka itu kini berubah jadi aset kehidupan yang tak tergantikan, berubah jadi memori yang tak terlupakan. I don’t like my mom because she’s too smart.

I miss you Ma….* numpang nangis rindu pilu*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s