Kiddy Activity, Parenthink, Uncategorized

Baca-Tulis untuk Anak Balita?Hmmm…

Sayup-sayup terdengar M menyenandungkan lagu ABC. Karena beberapa waktu lalu ia melihat sebuah video lagu huruf – huruf itu berjoget. Saya senang ia jadi kenal dengan alfabet. Tanpa harus dipaksa, ia tahu huruf-huruf itu. Namun jadi terpikirkan ,apakah M perlu tahu alfabet? Sekedar nyanyian saja atau perlu baca juga? Baca kata atau apa bagaimana ya?

Teringat masa spesial. Beberapa tahun lalu saya menjadi guru anak kebutuhan khusus. Dunia pendidikan yang berbeda suasana juga metode yang diterapkan- 180 derajat dari tempat sebelumnya Biasanya saat mengajarkan TK umum, saya akan mengajarkan anak sesuai tema bulan itu, sesuai panduan mengajar / lesson plan. Akan tetapi, untuk mengajarkan anak kebutuhan khusus, kami diminta mengganti sudut pandang. Anak berkebutuhan khusus tidak bisa mengikuti kurikulum sekolah umum (yang super kompleks deh ya kurikulum milenial sekolah Indonesia- Lol ). Gurulah yang membuatkan lesson plan personal sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka. Dari mereka, tersingkap banyak inspirasi cara belajar baca yang  berbeda. Mereka tak siap untuk menulis. Kebanyakan mereka memiliki masalah motorik halus (fine motor skill) dan motorik kasar (gross motor skill). Motorik halus adalah kemampuan otot kecil,   di bagian tangan. Contoh kegiatan  yang menggunakan otot ini seperti menggenggam dan memegang benda. Karena kondisi khusus anak, guru memberikan target pelajaran  secara berbeda. Untuk kemampuan  berbahasa, berkomunikasi diutamakan meski dengan kartu atau isyarat , lalu  baca gambar dahulu dibandingkan baca kata. Termasuk penguasaan mengenal objek nyata / tindakan dari kata yang dipelajari. Metode berbeda dengan guru mengajar baca pada umumnyakan? Tapi itu membuat mereka lebih paham sebuah makna kata.

Lanjutkan membaca “Baca-Tulis untuk Anak Balita?Hmmm…”

Traveling

First Hiking 2015

Russian Ridge Open Space tempat hiking pertama saya setelah menginjakkan kaki di ranah rantau California. Letaknya sekitar 2 jam dari San Jose County (county = sejenis kota kabupaten ) . Oh ya Open Space adalah wilayah terbuka tanpa bangunan yang dibangun di atasnya, semua orang bisa memasuki wilayah ini . Salah satu Open Space terbesar di wilayah San Francisco Bay Area adalah di antara pegunungan Santa Cruz. Russian Ridge ini awalnya tanah yang dimiliki oleh imigran Rusia , Mr Paskey. Tahun 1920-1950, Paskey membangun peternakan di wilayah ini.

Spot terkenal di wilayah Russian Ridge, yaitu Borrel Hill (puncak tertinggi di sini). Nama Borrel merupakan pemilik tanah di wilayah perbukitan ini yang merupakan seorang perbankan Swiss sekaligus pemilik perusahaan Spring Valley Water (1850-1920).

Saat saya berkunjung, masih penghujung musim panas. Jadi pemandangannya kebanyakan beberapa rerumputan gersang. Cuaca juga begitu terik. Namun seterik-teriknya panas pegunungan California, Anda memerlukan jaket. Padahal waktu berkunjung terbaik adalah musim gugur. Saya datang juga sebagai  ” turis ” yah, biar bukan waktu yang terbaik ke Russian Ridge , tujuan utama tetap bisa menikmati keindahan pegunungan di wilayah ini.

Untuk hiking keluarga, tempat ini sangat tepat. Bersepeda juga bisa jadi alternatif selain hiking. Namun sebaiknya pengunjung membawa cukup air minum dan snack, karena tempat parkir cukup jauh untuk memasuki dataran tinggi Russian Ridge.

 

blog-1sept2014-landscape-e-watermarkblog-1sept2014-meamore-dblog-1sept2014-russian-ridge-flowerblog-1sept2014-russian-ridge-landscape-hblog1sept2014-russian-ridge-meamore5

Referensi:

Open Space

Parenthink

Daptar Pertanyaan Retoris di Dalam Obrolan

1.”When, will you tie the knot? “

*BRBnyarisimpul*

Pasti itu pertanyaan di atas muncul deh setiap Lebaran bagi kita-kita  yang belum menyebar undangan pernikahan. Tiap mau salaman ambil angpao, lah muncul pertanyaan ini. Tiap mau makan opor, kok yang bikin opor ngobrol ini. Duh, Allah, andai saya bisa jawab sakit hati saya bertahun-tahun karena ditinggal X menikah (hanya perandaian masalah pribadi orang yang kita basa-basiin).

Tahun berlanjut, Alhamdulillah setengah din sudah digenapkan. Akhirnya…!!Eh jangan senang dulu… Ada pertanyaan lanjutannya sesudah menikah ciiin ;))

2.”Sudah punya anak belum? Sudah isi belum?”

Senangnya jika kalimat itu bisa dijawab dengan doa, “Insha Allah, mudah mudahan segera. Mohon doa ya . ” Tapi kesabaran untuk menjawab dengan nada yang baik, juga kadang sulit. Ingin teriak, ingin balik nanya dengan kondisi yang si penanya gak punya, ah godaan setan lah untuk menghardik. Atau sekedar menjawab “next question?” :p

Pertanyaan itu timbul karena mereka tidak kenal baik kondisi kita, ingin berbasa-basi, mungkin bisa jadi punya sifat kepo level akut. Bagaimana pun juga sebagai teman, kerabat, sebaiknya tidak menyodorkan pertanyaan ini pada pertemuan pertama. Biarkan berita soal anak-anak ini datang dari mereka teman-kerabat kita. Banyak sekali teman yang mengalami shock jadi benci karena pertanyaan ini. Pertanyaan yang mereka sendiri tidak bisa jawab, kapan buah hati bisa mereka miliki. Mereka mungkin sudah berusaha, namun belum juga ada hasil. Karena ketidak berdayaan mengatur soal rejeki anak ini, sebaiknya kita memilih topik basa basi lain.

Tahu betul rasanya, tidak tahu bagaimana jawab pertanyaan, yang jawabannya ada di tangan Tuhan. Namun kewajiban menjawab pertanyaan tentang takdir itu, akhirnya bisa gugurkan. Karena pertanyaan itu akan dijawab dengan perintah kepada penanya, untuk mendoakan dan bilang aamiin.

Anak itu titipan. Anak pun kebahagiaan. Ketika belum ada yang menitipkan kebahagiaan itu, apakah kita akan terus merongrong pertanyaan kepada pihak yang belum dititipkan? Seolah kita bisa memiliki solusi jitu dan benar atas masalah ini. So…. perhatikan, akankah pertanyaan kita soal anak kepada para pasangan baru menikah – sudah lama menikah, bisa menjatuhkan mereka, mungkin malas berkomunikasi lagi dengan kita. Think more, twice or more, before you ask it buddy.

3.”kamu kok (…kurusan / gemukan / jerawatan… ) kapan hamil anak ke 2 , etc..?”

Saya jarang  menemukan pertanyaan ini selama mukim di US, kecuali ketemu orang Indonesia pasti pertanyaan ini muncul:D Kata teman saya sih karena kultur basa-basinya orang Indonesia itu rada ganas. Why? Pertanyaannya selalu KEPO sama urusan pribadi orang lain. Wallahu alam bisshawab ya.. Tapi ya menurut saya kembali ke pribadi masing-masing. Kalau emang KEMAL banget mendingan stalking sosmednya aja buk:p Bagi saya pertanyaan seperti ini dibikin pertanyaa retorika aja, jawab dengan senyum.

Masalah kurus gemuk jerawatan kinclongan, itu kan cuma kita yang tau. Sebelum bertanya begitu sebaiknya sih lihat kondisi sendiri. Senangkah kita ditanya hanya karena dari segi fisik? Padahal kita mungkin sedang berusaha keras menjaga kesehatan. Menjadi lebih kurang pada sisi fisiknya mungkin orang itu punya masalah pribadi, hingga terjadi perubahan signifikan. Jika kita bertanya seputar fisik yang ia sendiri tidak ingin hal itu terjadi, rasanya bukan basa-basi yang tepat.

Bayangkan pula jika tengah pembicaraan ditanya soal hamil, padahal mungkin teman kita yang kita basa-basiin (kepoin) ini luar biasa berusaha hamil, namun masalah bertubi-tubi datang. Apa gak bikin teman kita malah semakin kepikiran. Padahal kan mo hamil ga hamil atau hamil berkali-kali itu selalu ada rencana Tuhan.

Pertanyaan retoris ialah pertanyaan seputar masalah pribadi yang kita tak ingin bagi dan dikaji orang lagi.. Sip?

4.”Anak kamu kok ….?”

Teman-teman saya sebelll pisan kalau urusan anak dibawa-bawa. Padahal ia jumpalitan mengurusi anak , lah ini orang-orang komentarin BB si anak. Mereka nggak tahu betapa BB anak itu sesuatu yang tidak mudah dilakukan. Kaya kita aja suruh menjaga diet non lemak terus BB kita up and down (atau up ga pernah down!) Sakit hati? Iya lho, teman-teman saya kesel kalau anak yang dijaga 24 jam/7hari itu dikritisi. Sementara yang mengkritisi bukan dokter atau nutrisionis.. Malahan mungkin hanya kepoinist.

Moral behind the KEPO soal anak dan Rumah Tangga… Plisss atuhlah stop komentarin urusan domestik tersebut. Pendam dan buang jauh ingin berkomentar. Kita tak tahu usaha apa yang sudah dilakukan sang orang tua untuk membesarkan anak mereka. Satu hal yang pasti, ketika saya jadi orang tua, selalu banyak episode sedu sedan. Meski di IG muncul foto anak yang happy.

5.” Jilbab kamu kok …… ?”

Really annoying! Masalah spiritual dikaitkan dengan masalah pakaian. Kalau mau mulai berdakwah, jangan dimulai dengan kritisi. Proses hijrah orang berbeda-beda. Respect to that point please. Hal ini bahkan akan menjauhkan kita dari target da’wah, why? Kamu tidak beri solusi pada dia. Kamu berikan nilai negatif dirinya dengan argumen da’wah mu…Bagaimana ia akan mendengarmu menilai kamu  yang tepat untuk dijadikan diskusi?

Suatu hari saya menghadiri majlis ilmu di wilayah San Francisco Bay Area Amerika Serikat. Semua teilhat normal isi materi ceramah tentang islam – dengan light topic sekedar etika, sejarah Islam dsbnya. Namun peserta yang hadir: tatoan, muslimah yang tak berhijab sehari-hari , orang yang tertarik dengan islam,  ada juga bule alis pirang berhijab dan sebagainya. Tentunya mereka  menyesuaikan diri ketika masuk ke ruang sholat. Namun saat di ruang studio (mereka punya studio untuk live broadcast), mereka kembali jadi diri mereka.  Kebanyakan mereka adalah convert alias mualaf. Mereka hadir dari keluarga yang berbeda-beda. Pastinya bukan keluarga yang menganut Islam. Maka mereka memerlukan tempat yang mengerti proses hijrah di keluarga non muslim. Kita sebagai saudara seiman wajib merangkul mereka tanpa menghakimi penampilan mereka.

Simak video Kalina Silverman yang tidak memulai  basa-basi alias small talk dalam pembicaraan:

How to Skip the Small Talk and Connect With Anyone | Kalina Silverman

Quotes

So silent is gold. Better than “mean” small talk. Ada pertanyaan basa-basi lain yang dirasakan olehmu mengganggu ?  Reply reply reply…Tinggalkan balasan…:P

Happy Connecting Channeling !

Kiddy Activity, Parenthink

Rituals You Need to Encourage to Your Child Before Consume Beverage

Rituals You Need To Encourage Before Consume FNBLong long ago, kebiasaan makan dan minum yang diajarkan oleh orang tua saya hanya duduk dan baca doa. Lalu kini saya duduk bersama suami , tinggal di negara berpenduduk majemuk dengan kami sebagai minoritas,saya jadi terpicu mengajarkan sesuatu.

Konsumsi makanan minuman – Food and Beverage, bermula dari hati. Bagi muslim akan selalu bertanya nomor satu: halalkah makanan ini. Mencari makanan halal sendiri susah-susah gampang. Istilahnya yang haram banyak. Terbersit beberapa habit yang saya temukan saat akan mengkonsumsi food and beverages.

1. Membaca

Iqro yang dijadikan wahyu pertama bagi Nabi, menjadi kebiasaan juga saat kita akan mengkonsumsi food and beverages . Baca label: halal atau tidak. Kemampuan baca kehalalan bisa dibantu oleh beberapa aplikasi seluler, kita tinggal scan atau ketik nama produk lalu App akan mencari. Namun ketika App tak ada, pengetahuan jadi andalan. Seperti turunan dari alkohol kan banyak.. PR bersama ortu buat bisa membaca label dalam makanan.

Termasuk baca doa. Ritual wajib agar kita meminta keberkahan dan perlindungan dari makanan yang diberikan. Namun sebagai orang tua berkewarganegaraan berbeda.. Saya harus menritualkan cerita food and beverages, apa makanan itu, siapa yang suka makanan itu. Jadilah bercerita masuk ritual kami.termasuk menerjemahkan doa yang dibaca , dari bahasa Arab ke bahasa Inggris.

Baca juga bahan makanannya, baik kah. Saya dilahirkan oleh keluarga Sumatera. Makanan berdaging dan santan sungguh bagian dari keseharian. Namun ini bertentangan dengan pola makan yang saya ingin ajarkan pada anak. Yup, saya harus meminta diri ini mengalahkan nafsu tidak makan santan berlebih juga daging . Efeknya kan kadar kolesterol yang tinggi, lagi lagi saya harus mengajar kan membaca benda apa yang akan dimakan. Baikkah bagi kesehatan?

2. Gaya Saat Mengkonsumsi

Bukan sekedar duduk yang jadi gaya makan. Memang disunahkan menurut Islam agar makan minum sambil duduk, dimulai dengan tangan kanAn.

Namun untuk usia anak saya yang masih balita, bukan itu yang saya titik beratkan. Kebersamaan makan-minum dengan ayah ibu di meja makan yang saya tekankan. Toh pengetahuan makan duduk harus dibarengi dengan penjelasan ilmiah sehingga anak ga merasa dibohongi , bayi saya belum bisa menerima perintah itu karena ia sedang semang cruising . Alhasil saya balik, duduk makan bersama jadi target belajar. Ia duduk di kursinsinggasananya, kami juga punya singgasana.

Cita cita saya beberapa tahun lagi, berharap ia kenal dimana meja makan dan waktu makan. Tanpa harus susah-susah berjalan atau lari mengejar M untuk makan-minum. aamiin!

3. Meliburkan gadget

Saat makan minum keluarga besar , ada satu tokoh di film Hercule Porot yang terus memegang bukunya. Lalu naluri keibuan saya mengkritik si tokoh, ibunya ngapain waktu dulu anak ini membaca saat masih kecil. Kini semua orang punya Gadget dan insta party saat makan minum. Ya Allah jadikan waktu makan minum jadi wkaru  menyenangkan untuk berbincang . Meskipun kafan di film lain terjadi “perselisihan meja makan”, setidaknya tidak ada Gadget di antara mereka. Jika ada mungkin perselisihan itu masuk ke status Facebook atau muncul di snap Chat!

4. Kosongkan pikiran, pedulikan makanan-minuman

Saya tahu ada beberapa orang emosional saat makan. Orang itu lagi marah lalu melampiaskan kemarahan sengaja makan hingga lapar berlebih. Apalagi jika makanan yang dikonsumsi bentuknya ringan dan bergaram. Itulah saya. Kini saya mencoba tidak jadi “emotional eater”seperti itu. Bagusnya saya sedang upgrade cooking skill, jadi saya terus mempelajari apa apa yang kurang dari masakan . Seringa jika saat makan, ya makan,menikmati tias banan yang dilumat nulut. Memperlama saat mengunyah. Bak orang mencicipi wine atau kopi gitu deh, diseruput , dihirup. Bukan sekedar blek-blek kunyah telan-kenyang. Konan memperlama penguyahan   juga membuat langsing!