1.”When, will you tie the knot? “

*BRBnyarisimpul*

Pasti itu pertanyaan di atas muncul deh setiap Lebaran bagi kita-kita  yang belum menyebar undangan pernikahan. Tiap mau salaman ambil angpao, lah muncul pertanyaan ini. Tiap mau makan opor, kok yang bikin opor ngobrol ini. Duh, Allah, andai saya bisa jawab sakit hati saya bertahun-tahun karena ditinggal X menikah (hanya perandaian masalah pribadi orang yang kita basa-basiin).

Tahun berlanjut, Alhamdulillah setengah din sudah digenapkan. Akhirnya…!!Eh jangan senang dulu… Ada pertanyaan lanjutannya sesudah menikah ciiin ;))

2.”Sudah punya anak belum? Sudah isi belum?”

Senangnya jika kalimat itu bisa dijawab dengan doa, “Insha Allah, mudah mudahan segera. Mohon doa ya . ” Tapi kesabaran untuk menjawab dengan nada yang baik, juga kadang sulit. Ingin teriak, ingin balik nanya dengan kondisi yang si penanya gak punya, ah godaan setan lah untuk menghardik. Atau sekedar menjawab “next question?” :p

Pertanyaan itu timbul karena mereka tidak kenal baik kondisi kita, ingin berbasa-basi, mungkin bisa jadi punya sifat kepo level akut. Bagaimana pun juga sebagai teman, kerabat, sebaiknya tidak menyodorkan pertanyaan ini pada pertemuan pertama. Biarkan berita soal anak-anak ini datang dari mereka teman-kerabat kita. Banyak sekali teman yang mengalami shock jadi benci karena pertanyaan ini. Pertanyaan yang mereka sendiri tidak bisa jawab, kapan buah hati bisa mereka miliki. Mereka mungkin sudah berusaha, namun belum juga ada hasil. Karena ketidak berdayaan mengatur soal rejeki anak ini, sebaiknya kita memilih topik basa basi lain.

Tahu betul rasanya, tidak tahu bagaimana jawab pertanyaan, yang jawabannya ada di tangan Tuhan. Namun kewajiban menjawab pertanyaan tentang takdir itu, akhirnya bisa gugurkan. Karena pertanyaan itu akan dijawab dengan perintah kepada penanya, untuk mendoakan dan bilang aamiin.

Anak itu titipan. Anak pun kebahagiaan. Ketika belum ada yang menitipkan kebahagiaan itu, apakah kita akan terus merongrong pertanyaan kepada pihak yang belum dititipkan? Seolah kita bisa memiliki solusi jitu dan benar atas masalah ini. So…. perhatikan, akankah pertanyaan kita soal anak kepada para pasangan baru menikah – sudah lama menikah, bisa menjatuhkan mereka, mungkin malas berkomunikasi lagi dengan kita. Think more, twice or more, before you ask it buddy.

3.”kamu kok (…kurusan / gemukan / jerawatan… ) kapan hamil anak ke 2 , etc..?”

Saya jarang  menemukan pertanyaan ini selama mukim di US, kecuali ketemu orang Indonesia pasti pertanyaan ini muncul:D Kata teman saya sih karena kultur basa-basinya orang Indonesia itu rada ganas. Why? Pertanyaannya selalu KEPO sama urusan pribadi orang lain. Wallahu alam bisshawab ya.. Tapi ya menurut saya kembali ke pribadi masing-masing. Kalau emang KEMAL banget mendingan stalking sosmednya aja buk:p Bagi saya pertanyaan seperti ini dibikin pertanyaa retorika aja, jawab dengan senyum.

Masalah kurus gemuk jerawatan kinclongan, itu kan cuma kita yang tau. Sebelum bertanya begitu sebaiknya sih lihat kondisi sendiri. Senangkah kita ditanya hanya karena dari segi fisik? Padahal kita mungkin sedang berusaha keras menjaga kesehatan. Menjadi lebih kurang pada sisi fisiknya mungkin orang itu punya masalah pribadi, hingga terjadi perubahan signifikan. Jika kita bertanya seputar fisik yang ia sendiri tidak ingin hal itu terjadi, rasanya bukan basa-basi yang tepat.

Bayangkan pula jika tengah pembicaraan ditanya soal hamil, padahal mungkin teman kita yang kita basa-basiin (kepoin) ini luar biasa berusaha hamil, namun masalah bertubi-tubi datang. Apa gak bikin teman kita malah semakin kepikiran. Padahal kan mo hamil ga hamil atau hamil berkali-kali itu selalu ada rencana Tuhan.

Pertanyaan retoris ialah pertanyaan seputar masalah pribadi yang kita tak ingin bagi dan dikaji orang lagi.. Sip?

4.”Anak kamu kok ….?”

Teman-teman saya sebelll pisan kalau urusan anak dibawa-bawa. Padahal ia jumpalitan mengurusi anak , lah ini orang-orang komentarin BB si anak. Mereka nggak tahu betapa BB anak itu sesuatu yang tidak mudah dilakukan. Kaya kita aja suruh menjaga diet non lemak terus BB kita up and down (atau up ga pernah down!) Sakit hati? Iya lho, teman-teman saya kesel kalau anak yang dijaga 24 jam/7hari itu dikritisi. Sementara yang mengkritisi bukan dokter atau nutrisionis.. Malahan mungkin hanya kepoinist.

Moral behind the KEPO soal anak dan Rumah Tangga… Plisss atuhlah stop komentarin urusan domestik tersebut. Pendam dan buang jauh ingin berkomentar. Kita tak tahu usaha apa yang sudah dilakukan sang orang tua untuk membesarkan anak mereka. Satu hal yang pasti, ketika saya jadi orang tua, selalu banyak episode sedu sedan. Meski di IG muncul foto anak yang happy.

5.” Jilbab kamu kok …… ?”

Really annoying! Masalah spiritual dikaitkan dengan masalah pakaian. Kalau mau mulai berdakwah, jangan dimulai dengan kritisi. Proses hijrah orang berbeda-beda. Respect to that point please. Hal ini bahkan akan menjauhkan kita dari target da’wah, why? Kamu tidak beri solusi pada dia. Kamu berikan nilai negatif dirinya dengan argumen da’wah mu…Bagaimana ia akan mendengarmu menilai kamu  yang tepat untuk dijadikan diskusi?

Suatu hari saya menghadiri majlis ilmu di wilayah San Francisco Bay Area Amerika Serikat. Semua teilhat normal isi materi ceramah tentang islam – dengan light topic sekedar etika, sejarah Islam dsbnya. Namun peserta yang hadir: tatoan, muslimah yang tak berhijab sehari-hari , orang yang tertarik dengan islam,  ada juga bule alis pirang berhijab dan sebagainya. Tentunya mereka  menyesuaikan diri ketika masuk ke ruang sholat. Namun saat di ruang studio (mereka punya studio untuk live broadcast), mereka kembali jadi diri mereka.  Kebanyakan mereka adalah convert alias mualaf. Mereka hadir dari keluarga yang berbeda-beda. Pastinya bukan keluarga yang menganut Islam. Maka mereka memerlukan tempat yang mengerti proses hijrah di keluarga non muslim. Kita sebagai saudara seiman wajib merangkul mereka tanpa menghakimi penampilan mereka.

Simak video Kalina Silverman yang tidak memulai  basa-basi alias small talk dalam pembicaraan:

How to Skip the Small Talk and Connect With Anyone | Kalina Silverman

Quotes

So silent is gold. Better than “mean” small talk. Ada pertanyaan basa-basi lain yang dirasakan olehmu mengganggu ?  Reply reply reply…Tinggalkan balasan…:P

Happy Connecting Channeling !